Kasada di Bromo
Juli 13, 2012 at 20:51 , by ensiklonesia
Upacara Kasada bromo dilakukan oleh masyarakat Tengger yang bermukim di Gunung Bromo Jawa Timur, mereka melakukan ritual ini untuk mengangkat seorang Tabib atau dukun disetiap desa. Agar mereka dapat diangkat oleh para tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan menghafal mantera mantera.
Tempat untuk mengadakan upacara kasada adalah Pura Luhur Poten Gunung Bromo, tidak seperti pemeluk hindu pada umumnya yang memiliki candi candi sebagai tempat ibadah. Namun poten merupakan sebidang tanah dilahan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada.
Asal usul upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu “Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari kerajaan Majapahit, permaisuri dikaruniai anak perempuan yang bernama Roro Anteng. Setelah beranjak dewasa sang Putri jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari Kasta Brahmana yang bernama Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan dan semakin berkibarnya perkembangan Islam di P Jawa. Beberapa orang kepercayaan kerajaan dan sebagian keluarganya memutuskan pergi kewilayah timur. Dan sebagian besar ke kawasan pegunungan tengger, termasuk Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah mereka menjadi penguasa diwilayah ini, mereka sangat sedih karena belum dikaruniai seorang anak. Berbagai macam cara mereka coba, sampai pada akhirnya mereka kepuncak Gunung Bromo untuk bersemedi. Akhirnya permintaan mereka dikabulkan dengan munculnya suara gaib, dengan syarat anak bungsu mereka setelah lahir harus dikorbankan kekawah gunung bromo. Setelah mereka dikaruniai 25 orang anak, tiba saatnya mereka harus mengorbankan si bungsu. Tetapi mereka tidak tega melakukannya, karena hati nurani orang tua yang tidak tega membunuh anaknya. Akhirnya sang dewa marah dan menjilat anak bungsu tersebut masuk kekawah gunung, timbul suara dari si bungsu agar orang tua mereka hidup tenang beserta saudara-saudaranya. Dan tiap tahun untuk melakukan sesaji yang dibuang ke gunung bromo. Sampai sekarang adat istiadat ini dilakukan secara turun menurun.
Pada malam hari, masyarakat Tengger mengenakan baju adat untuk memulai prosesi upacara. Kasada diawali oleh pementasan tarian tradisional Rara Anteng dan Jaka Seger. . Nama ‘Tengger’ kemudian diambil dari potongan nama mereka.
Dukun yang terpilih lalu memimpin rombongan suku Tengger naik ke puncak Gunung Bromo, 2.392 mdpl. Mereka membawa sesaji dalam jumlah banyak, berupa hasil pertanian, buah-buahan, juga hewan ternak. Sesaji inilah yang menjadi persembahan untuk arwah para nenek moyang. Sesaji itu lalu dilempar ke dalam kawah sebagai pengantar harapan akan hidup yang lebih makmur.
Dari tahun ke tahun, upacara Kesada selalu dipenuhi para traveler yang ikut serta dalam ritual. Bahkan bagi beberapa orang, upacara ini adalah poin utamanya. Panorama indah Gunung Bromo bisa dinikmati di sela-selanya.
Sumber:
BAMBU GILA
Juli 6, 2012 at 16:13 , by ensiklonesia
Permainan tradisonal berbau magis itu disebut bambu gila. Atraksi ini sering diperagakan di berbagai acara adat dan kesenian di Pulau Halmahera. Dalam permainan tersebut, seseorang yang memiliki ilmu akan mengendalikan sebatang bambu yang dipegang oleh sekitar 7-9 orang anak laki-laki (jumlahnya harus ganjil). Mereka mendekap bambu itu dengan pergelangan tangannya. Lalu si pawang mentransfer ilmu tenaga dalam ke bambu itu, hingga bambu dapat bergerak, bahkan terbang. Tak jarang anak-anak ikut terbang bersama bambu gila itu.
Bambu gila juga dikendalikan oleh gerakan tangan sang pawang yang memegang benda berasap. Jika tangan bergerak ke selatan, maka bambu itu akan bergerak ke selatan. Begitu juga jika tangan pawang bergerak ke arah barat, maka bambu akan bergerak ke arah barat. Anak-anak yang memegang bambu hanya terkekeh-kekeh sambil memegang erat bambu gila itu supaya tidak terjatuh.
Sebelum memulai pertunjukan, pawang melakukan ritual dengan membakar kemenyan yang ada di dalam tempurung kelapa dan membaca mantera-mantera. Mantera yang diucapkan menggunakan ‘bahasa tanah’, yaitu bahasa leluhur Maluku. Saat pawang melakukan ritual, jangan heran jika banyak asap-asap dan nuansa mistis yang Anda rasakan di sekitar tempat pertunjukan. Ritual tersebut dipercaya dapat memanggil roh para leluhur untuk ‘mengisi’ bambu yang akan digunakan.
Dulu, di masa Kesultanan Ternate, penduduk menggunakan bambu gila untuk mendorong perahu kora-kora dari daratan ke laut. Beberapa orang, jumlahnya harus ganjil, mengapit bambu di lengan mereka dan berdiri di belakang kapal. Dengan jampian pawang, bambu pun memiliki kekuatan untuk mendorong kora-kora.
Sebanyak 700 peserta berikut 100 pawang akan menampilkan 100 bambu gila (baramasuwen), permainan tradisional di Maluku Utara dan Maluku, sebagai bagian dari Festival Legu Gam di Ternate, Maluku Utara, Jumat (20/4/2012). Atraksi ini akan dicatatkan di Museum Rekor Indonesia sebagai bambu gila dengan peserta terbanyak.
penampilan 100 bambu gila ini untuk dicatatkan di Museum Rekor Indonesia (Muri) sekaligus menjadi salah satu daya tarik dalam festival budaya Legu Gam, yang telah berlangsung sejak 25 Maret dan akan berakhir 21 April. Selain itu, permainan sebagai bagian dari budaya ini pun ditampilkan agar keberadaannya tetap lestari.
Sumber:
http://www.gatra.com/ 06 May 2012
http://regional.kompas.com/ 17 April 2012
http://travel.detik.com/ 01 Februari 2012
Yuk, Kita Kenali Lagi Tempat Wisata Dalam Negeri Kita ïŠ
Juli 5, 2012 at 11:39 , by ensiklonesia
Buat yang lagi bingung mau liburan kemana di musim liburan ini, jangan buru-buru memutuskan untuk pergi ke luar negeri dulu. Karena di Indonesia masih banyak tempat-tempat keren yang pastinya cocok banget buat kaian kunjungi.
1. Taman Nasional Lorentz, Papua

Taman Nasional Lorentz, Papua
Taman Nasional Lorentz memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem. Taman Nasional Lorentz juga telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN.
Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.
Musim kunjungan terbaik: bulan Agustus s/d Desember setiap tahunnya.
2. Raja Ampat

Raja Ampat
Buat kalian pecinta diving dan snorkeling pasti udah ga asing lagi sama tempat yang satu ini. Pulau ini diberi nama Raja Ampat yang artinya ‘Empat Raja’, nama itu berasal dari mitos lokal. Empat pulau utama yang dimaksud adalah Waigei, Salawati, Batanta, dan Misool yang merupakan penghasil lukisan batu kuno.
Wilayah pulau-pulau di Raja Ampat sangatlah luas, mencakup 4,6 juta hektar tanah dan laut. Di sinilah rumah bagi 540 jenis karang, 1.511 spesies ikan, serta 700 jenis moluska. Kekayaan biota ini telah menjadikan Raja Ampat sebagai perpustakaan hidup dari koleksi terumbu karang dan biota laut paling beragam di dunia. Bahkan, menurut laporan The Nature Conservancy dan Conservation International, ada sekitar 75% spesies laut dunia tinggal di pulau yang menakjubkan ini.
3. Taman Nasional Kelimutu, Flores

Kelimutu, Flores
Taman Nasional Kelimutu merupakan habitat sekitar 19 jenis burung yang terancam punah diantaranya punai Flores (Treron floris), burung hantu wallacea (Otus silvicola), sikatan rimba-ayun (Rhinomyias oscillans), kancilan Flores (Pachycephala nudigula), sepah kerdil (Pericrocotus lansbergei), tesia Timor (Tesia everetti), opior jambul (Lophozosterops dohertyi), opior paruh tebal (Heleia crassirostris), cabai emas (Dicaeum annae), kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), burung madu matari (Nectarinia solaris), dan elang Flores (Spizaetus floris).
Selain memiliki keanekaragaman hayati yang cukup bernilai tinggi, juga memiliki keunikan dan nilai astetika yang menarik yaitu dengan adanya tiga buah danau berwarna dan berada di puncak Gunung Kelimutu (1.690 meter dpl). Danau pertama bernama Tiwu Ata Mbupu (danau arwah para orang), danau kedua bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (danau arwah muda-mudi) dan danau ketiga bernama Tiwu Ata Polo (danau arwah para tukang tenung). Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan, sedangkan danau ketiga terletak menyendiri sekitar 1,5 km di bagian Barat. Warna air dari ketiga danau tersebut berbeda satu sama lain dan selalu berubah dari waktu ke waktu terutama warna air Tiwu Nuwa Muri (duabelas kali perubahan dalam jangka waktu duapuluh lima tahun). Selain disebabkan oleh aktivitas gunung berapi Kelimutu, perubahan warna ini diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna dinding dan dasar dana.
4. Taman Nasional Ujung Kulon, Barat Pulau Jawa

Ujung Kulon, Barat Pulau Jawa
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.
Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820. Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.
Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional yaitu suku Banten yang terkenal dengan kesenian debusnya. Masyarakat tersebut pengikut agama Islam, namun mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan kebudayaan nenek moyang mereka.Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.
5. Taman Nasional Way Kambas, Lampung

Way Kambas, Lampung
Musim kunjungan terbaik pada bulan Juli sampai dengan bulan September. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi antara lain:
Pusat Latihan Gajah (PLG) Karangsari
Gajah-gajah liar yang dilatih di Pusat Latihan Gajah (PLG) terletak 9 Km dari pintu gerbang Plang Ijo didirikan pada tahun 1985 dan telah menghasilkan sekitar 290 ekor gajah yang terlatih. Gajah-gajah dapat dijadikan sebagai gajah tunggang, atraksi, angkutan kayu dan bajak sawah. Pada Pusat Latihan Gajah tersebut dapat disaksikan Pelatih dan mendidik dan melatih gajah liar, menyaksikan atraksi gajah yang sangat luar biasa (main bola, menari, berjabat tangan, hormat, mengalungkan bunga, tarik tambang, berenang dan masih banyak atraksi lainnya).
Way Kambas, untuk kegiatan berkemah.
Way Kanan, untuk kegiatan Penelitian dan penangkaran Badak Sumatera dengan fasilitas laboratorium alam dan wisma peneliti.
Rawa Kali Biru, Rawa Gajah, dan Kuala Kambas, untuk kegiatan menyelusuri sungai Way Kanan, pengamatan satwa (bebek hutan, kuntul, rusa, burung migran), pdang rumput dan hutan mangrove.
Source: Dari berbagai sumber
Pernak - Pernik Aksesoris Khas Aceh
Juli 4, 2012 at 20:51 , by ensiklonesia
Indonesia mempunyai beragam khas budaya di setiap provinsi. Mulai dari adat istiadat, bahasa, masakan, pakaian hingga hal-hal detail seperti aksesoris atau perhiasan. Salah satu provinsi yang mempunyai beragam aksesoris tesebut adalah Aceh. Aksesoris ini merupakan sebagai pernik perlengkapan pakaian adat Aceh yang biasa juga selalu dikenakan pada acara-acara tertentu.
Berikut adalah pernik-pernik aksesoris khas Aceh:
Keureusang
Ada yang menyebut aksesoris ini dengan keurongsang, keurosang atau bros. Keureusang merupakan perhiasan sepanjang 10 cm dan lebar 7,5 cm dan biasanya disematkan pada baju wanita. Bentuknya seperti hati yang dihiasi dengan permata, intan, dan emas sejumlah 102 buah. Keureusang ini biasanya disematkan pada baju di bagian dada sebagai pengganti peniti. Karena kemewahannya, biasanya perhiasan ini hanya dipakai oleh orang-orang tertentu atau dalam acara adat tertentu.
Patam Dhoe
Patam Dhoe adalah salah satu perhiasan yang biasanya diletakkan di dahi wanita. Bentuknya seperti mahkota, terbuat dari emas atau perak yang disepuh emas. Terbagi tiga bagian yang satu sama lainnya dihubungkan dengan engsel. Di bagian depan tertulis kalaigrafi Arab dengan tulisan Allah dan bagian tengahnya terdapat tulisan Muhammad. Motif ini disebut motif Bungoeng Kalimah.
Peuniti
Perhiasan ini terbuat dari emas yang bermotif Pinto Aceh. Pinto Aceh dibuat dengan ukiran piligran yang dijalin dengan benuk pakis dan bunga. Pada bagian tengah terdapat motif boheungkot (bulatan kecil seperti telur ikan). Peniti dipakai sebagai perhiasan wanita sekaigus pentemat baju.
Simplah
Simplah merupakan suatu perhiasan dada untuk wanita. Terbuat dari perak bersepuh emas. Terdiri dari 24 lempengan segi enam dan dan 2 lempengan segi delapan. Setiap lempengan dihiasi ukiran motif bunga dan daun. Lempengan-lempengan itu dihubungkan dengan dua untai rantai Simplah berukuran 51 cm persegi.
Subang Aceh
Perhiasan ini berupa sepasang subang terbuat dari emas dan permata. Ukurannya berdiameter 6 cm. Bentuknya seperti bunga matahari dengan ujungnya runcing-runcing. Bentuk bunga matahari tersebut dinamakan “Sigeudoe Subang”. Inilah sebabnya perhiasan ini disebut juga dengan Subang Mata Uroe.
Taloe Jeum
Taloe Jeum adalah perhiasan yang terbuat dari perak bersepuh emas. Terdiri dari rangakaian cincin-cincin berbentuk rantai. Pada ke dua ujung rantai terdapat kait berbentuk angka delapan. Taloe Jeum ini merupakan alat pelengkap pakaian lelaki yang disematkan di baju.
Referensi:
http://www.jkma-aceh.org/haba/?p=244
http://www.scribd.com/doc/28131419/Budaya-Aceh
TRADISI MEMBUAT TATO DAN TELINGA PANJANG DI KALIMANTAN
Juni 29, 2012 at 19:23 , by ensiklonesia


Seni tato dan telinga panjang menjadi ciri khas atau identitas yang sangat menonjol sebagai penduduk asli Kalimantan. Dengan ciri khas dan identitas itulah yang membuat suku Dayak di kenal luas hingga dunia internasional dan menjadi salah satu kebanggan budaya yang ada di Indonesa. Namun tradisi ini sekarang justru semakin ditinggalkan dan nyaris punah. Trend dunia fashion telah mengikis budaya tersebut . Kalaupun ada yang bertahan, hanya sebagian kecil golongan generasi tua suku Dayak yang berumur di atas 60 tahun. Generasi suku Dayak diatas tahun 80-an bahkan generasi sekarang mengaku malu.
Tradisi telinga panjang merupakan salah satu keunikan budaya di Kalimantan. Walaupun sebetulnya tidak semua suku yang melakukannya, tapi budaya ini sudah terlanjur erat dihubungkan dengan masyarakat dayak secara umum. Namun tradisi ini, sejalan dengan waktu telah semakin menghilang, dan saat ini hanya tinggal sedikit sekali yang masih memiliki telinga panjang dan umumnya generasi tua.
Adapun pembuatan telinga panjang pada perempuan menunjukkan dia seorang bangsawan sekaligus untuk membedakan dengan perempuan yang dijadikan budak karena kalah perang atau tidak mampu membayar utang.
Disamping itu telinga panjang digunakan sebagai identitas untuk menunjukkan umur seseorang. Begitu bayi lahir, ujung telinga diberi manik-manik yang cukup berat. Setiap tahun, jumlah manik-manik yang menempel di telinga bertambah satu.
“Karena itu, kalau ingin mengetahui umur seseorang, bisa dilihat dari jumlah manik-manik yang menempel di telinga. Jika jumlahnya 60, maka usianya pasti 60 tahun karena pemasangan manik-manik tidak bisa dilakukan sembarangan, cuma setahun sekali,†ucap Moh
Teling panjang juga memiliki makna dimana untuk melatih kesabaran. “Bayangkan saja, betapa beratnya manik-manik yang tergantung di telinga, tetapi, karena dipakai setiap hari, kesabaran dan rasa penderitaan mereka menjadi terlatih,†terangnya.
Untuk desa-desa di hulu Sungai Mahakam, telinga panjang digunakan sebagai identitas untuk menunjukkan umur seseorang. Begitu bayi lahir, ujung telinga diberi manik-manik yang cukup berat. Setiap tahun, jumlah manik-manik yang menempel di telinga bertambah satu.
Tujuan pembuatan telinga panjang pun bukan untuk menunjukkan status kebangsawanan, tetapi justru untuk melatih kesabaran. Jika dipakai setiap hari, kesabaran dan kesanggupan menahan derita semakin kuat.
Sementara itu, di kalangan masyarakat Dayak Kayan, agar daun telinga menjadi panjang, biasanya daun telinga diberi pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang atau berbentuk gasing ukuran kecil. Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter.
Sementara pada Dayak Iban, tidak diberi pemberat demikian, tetapi hanya dibiarkan terlihat seperti lubang besar seperti kalau kita membuat angka nol dengan menyatukan ujung ibu jari dengan ujung jari telunjuk.
TATO
Tattoo bagi masyarakat Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, Tattoo tidak bisa dibuat sembarangan. Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan Tattoo atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang diTattoo maupun penempatan Tattoonya. Bahkan yang membuat Tattoo itupun bukan sembarang orang.
Meski demikian, secara religi Tattoo memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor†dalam perjalanan seseorang dalam menuju alam keabadian, setelah kematian. Karena itu, semakin banyak Tattoo, “obor†akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan Tattoo tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan-aturan adat.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya Tattoo menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena biasanya setiap perkampungan Dayak yang mentradisikan Tattoo memiliki jenis motif Tattooo tersendiri bahkan memiliki penempatan Tattoo tersendiri di bagian tubuh mereka yang merupakan ciri khas suku mereka. Sehingga bagi mereka banyaknya Tattoo menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung. Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer. Di Kalimantan, jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan. Karena itu, penghargaan pada perantau diberikan dalam bentuk Tattoo.
Tattoo bisa pula diberikan kepada bangsawan. Di kalangan masyarakat Dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren) adalah burung enggang (anggang) yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan. Bagi mereka burung enggang merupakan rajanya segala burung yang melambangkan sosok yang gagah perkasa, penuh wibawa, keagungan, dan kejayaan. Sehingga Tattoo motif jenis ini biasanya diperuntukan hanya untuk orang-orang tertentu saja. Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunanya diTattoo dengan motif “dunia atas†atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan Tattoo untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan detail dibandingkan Tattoo untuk golongan menengah (panyen).
Tattoo atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki – laki, Tattoo bisa dibuat di bagian manapun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan. Jika pada laki-laki pemberian Tattoo dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan Tattoo lebih bermotif religius.
“Pembuatan Tattoo pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh -roh jahat atau selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Pada subsuku tertentu, pembuatan Tattoo juga terkait dengan harga diri perempuan, sehingga dikenal dengan istilah “tedak kayaanâ€, yang berarti perempuan tidak berTattoo dianggap lebih rendah derajatnya dibanding dengan yang berTattoo. Meski demikian, pandangan seperti ini hanya berlaku disebagian kecil subsuku Dayak.
Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam Tattoo yang biasanya disandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, Tattoo yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii. Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan Tattoo pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan Tattoo bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat disebuah rumah khusus. Selama pembuatan Tattoo, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang diTattoo maupun keluarganya.
Motif Tattoo bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Adapun yang melintang dibelakan buku jari disebut ikor. Tattoo di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau. Adapula Tattoo yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki Tattoo dibagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis. Motif Tattoo di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau. Perbedaanya dengan Tattoo di bagian tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.
http://www.ceritadayak.com/2009/11/tradisi-telinga-panjang.html
http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/25/punahnya-budaya-telinga-panjang-wanita-suku-dayak/
Alat Musik Gondang Sambilan Asal Mandailing, Sumatera Utara
Juni 27, 2012 at 21:55 , by ensiklonesia

Alat musik Gondang Sambilan sudah ada di Kabupaten Mandailing Natal sejak ratusan tahun silam. Sebelum agama masuk ke Mandailing, pertunjukan Gondang Sambilan dilakukan untuk ritual kepercayaan. Namun sekarang alat musik ini dimainkan untuk upacara pernikahan adat, hajatan, perayaan, penyambutan tamu dan hiburan untuk masyarakat Mandailing. Pada zaman dulu Gondang Sambilan hanya dipertunjukan untuk kalangan istana. Setelah kemerdekaan barulah dipertunjukan untuk masyarakat umum.
Pada masa kolonial, kesenian ini menjadi hiburan para raja dan sebagai bentuk perlawanan terhadap kompeni Belanda. Ada bunyi tertentu yang ditabuh, menandakan kedatangan serdadu Belanda dan masyarakat diminta untuk segera mengungsi. Lalu ada tanda bunyi lainnya yang meminta masyarakat untuk kembali ke kampung karena serdadu belanda sudah pergi.
Ada beberapa versi yang menjelaskan mengapa ada kata “sambilan” atau angka sembilan yang menjelaskan jumlah gordang atau gendang. Seperti pada masa kerajaan dahulu, pemukul Gondang harus berjumlah sembilan orang, terdiri dari naposo bulung atau kaum muda, anak boru, kahanggi, serta raja itu sendiri.
Versi lain menyebutkan bahwa angka sembilan melambangkan sembilan raja yang saat itu berkuasa di tanah Mandailing Natal, yakni Nasution, Pulungan, Rangkuti, Hasibuan, Lubis, Matondang, Parinduri, Daulay, dan Batubara.
Perkembangan Alat Musik Gondang Sambilan
Dahulu orang-orang membuat sembilan lubang di tanah, lalu lubang-lubang tersebut ditutup dengan kulit kerbau sehingga menghasilkan bunyi-bunyian ketika ditepuk. Kini, alat musik Gondang Sambilan berkembang, masyarakat mengganti tanah dengan kayu. Kayu yang digunakan juga khusus untuk membuat gondang agar bunyi yang dihasilkan bagus. Selain itu, dulu, berdasarkan adat hanya laki-laki yang boleh memainkan alat musik ini. Tetapi bila sekarang ada perempuan yang ingin memainkan musik tersebut diperbolehkan.
Musik Gondang Sambilan oleh sembilan orang. Alat musik yang dimainkan terdiri atas sembilan gondang, seruling, tiga eneng-eneng, dua gong, sepasang sasayang, dan sebuah mong-mongan.
Referensi:
http://www.antaranews.com/berita/316953/gordang-sambilan-sudah-ratusan-tahun-ada-di-mandailing
http://www.tempo.co/read/news/2012/06/18/173411217/Malaysia-Klaim-Tari-Tortor-Indonesia-Harus-Tegas
Ini dia “Tarian Tor Tor”
Juni 18, 2012 at 21:15 , by ensiklonesia
Tor tor adalah tari tradisional Suku Batak.
Gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.
Menurut sejarah, tari tor tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur).
Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.
Jenis tari tor tor beragam. Ada yang dinamakan tor tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar.
Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
Selanjutnya ada tari tor tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja.
Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).
Terakhir, ada tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah.
Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.
Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor tor biasanya hanya digunakan untuk menyambut turis. (Kidnesia/berbagai sumber)
Busana ala Toraja “membanggakan” Indonesia
Juni 11, 2012 at 19:09 , by ensiklonesia
Mystical Toraja, busana ala Toraja, Sulawesi Selatan, yang dikenakan Johanica Yanuar, dalam kontes pria berbakat sejagat, Manhunt Internasional 2011 di Korea Selatan sukses menyabet predikat The Best National Costume. Selain itu, Yanuar juga masuk dalam Top 15? di ajang tersebut.
Ini prestasi yang membanggakan karena penghargaan national costume termasuk yang paling bergengsi dalam ajang tingkat dunia ini, kata Ketua Tim Indonesia (National Director) yang juga Brand Manager L-Men, Christian Widi Nugraha, di Seoul, Korsel.
Wakil Indonesia, Johanica Yanuar (26), yang berpostur tinggi 182 cm itu mengenakan busana rancangan Dynan Fariz-Jember Fashion Carnaval yang bertemakan Mystical Toraja dalam sesi Traditional Costume Parade dalam ajang Manhunt International 2011 yang malam puncak finalnya digelar di Millenium Hotel, Gangnam, Seoul, pada Senin (10/10) malam.
Busana tersebut merupakan modifikasi pakaian adat Toraja, Seppa Tallung Buku yang dilengkapi dengan sayap dan tanduk, mengesankan kebesaran dan keagungan salah satu kebudayaan Indonesia.
Christian Widi Nugraha menambahkan, pengerjaan kostum tersebut memakan waktu berminggu-minggu. Sampai acara akan dimulai, kostum itu belum juga selesai akhirnya dikerjakan marathon selama sepekan, dan siap digunakan pada sore hari sebelum tim diberangkatkan ke Korsel, katanya.
Bahkan, Widi menambahkan, fitting pakaian dan pemotretan baru dilakukan pukul 11.00 malam sesaat sebelum tim berangkat ke Korsel. Perjuangan belum berhenti karena di bandara sempat dipersoalkan lantaran kelebihan muatan sehingga dikenai biaya overweight hingga 700 dolar AS, katanya.
Salah satu juri Manhunt Internasional 2011 yang juga perancang mode ternama, Ricky Abad, mengatakan, national costume asal Indonesia layak menjadi juara karena detail, unik, dan megah. Desain kostum Indonesia sangat unik, detail, dan membuat pemakainya terlihat gagah. Inspirasi itu diperkaya dengan tanduk dan ekor seperti binatang, katanya.
Pada kesempatan itu, duta China Chen JianFeng, sukses menjadi juara pertama Manhunt International 2011. First runner up diraih Dominican Republic, 2nd runner up ditempati oleh Belgia, 3th runner up Vietnam, 4th runner up dari Slovak Republic.
Awalnya saya tidak menyangka bisa menduduki posisi 15 besar dan ini saat yang sangat membahagiakan bagi saya bisa mewakili Indonesia di ajang internasional, kata Yanuar.

Mystical Toraja
Danau Merah Darah di Bengkulu
Juni 8, 2012 at 20:58 , by ensiklonesia
Warga Kota Pagaralam, Sematera Selatan, Sabtu (4/12), menemukan danau yang permukaan air berwarna merah seperti darah dengan luas enam hektare diperbatasan Provinsi Bengkulu atau sekitar bukit Raje Mandare.
Keberadaan danau ini juga baru dapat dijangkau membutuhkan waktu sekitar dua hari dengan berjalan kaki melewati kawasan hutan dan bukit Rimbacandi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Selatan.
Kami bersama rombongan sebanya 21 orang termasuk dua para normal melakukan ekspedisi di kawasan Rimbacandi dengan menelusuri tebing, hutan dan perbukitan selama dua hari baru sampai di lokasi danau merah tersebut, kata Asmidi, warga setempat di Pagaralam.
Dikatakannya, letak danau itu di sekitar perbukitan Raje Mandare perbatasan antara Kota Pagaralam dan Kaur, Provinsi Bengkulu yang terkenal dengan banyak tersimpan berbagai peninggalan bersejarah termasuk candi.
Menurut dia, daerah itu memang banyak hal yang aneh bisa ditemukan, bukan hanya ada danau dengan terlihat permukaan air berwarna merah, tapi juga ada lokasi menimbulkan aroma pandan bila malam hari.
Namun anehnya meskipun dilihat dari permukaan berwarna merah, tapi ketika air diambil menggunakan tangan diangkat ke permukaan justru warnanya seperti biasa bening dan jernih, kata dia.
Ia mengatakan, kemudian di daerah bukit Raje Mandare itu kondisi hutanya juga ada keanehan, untuk membedakan apakah daerah tersebut masih tanah Besemah atau bukan bisa dilihat dari pohon kayu.
Jadi kalau pohon kayu miring ke arah Pagaralam artinya masih masuk wilayah tanah Besemah, sedangkan kalau masuk daerah Bengkulu ia akan berlawanan arah miringnya, ungkap dia.
Kemudian di daerah itu, semua jenis burung dan hewan hutan yang ada cukup jinak, namun tidak boleh mengeluarkan suara atau berbicara supaya aneka hewan tersebut tidak lari, kata Asmidi.
Ada hal lain yang kami temukan seperti kelabang raksasa ukuran lebar 30 centimeter dengan panjang 50 cm, burung raksasa dan kerbau yang telinganya ada sarang lebah atau tawon, namun demikian kami tidak tahu apa saja yang tersimpan di daerah bukit Raje Mandare itu, ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Senibudaya setempat, Syafrudin, mengatakan daerah Rimbacandi memang masih banyak menyimpan misteri hingga kini masih belum dapat terungkap termasuk keberadaan bukit Raje Mandare yang banyak memiliki peninggalan sejarah termasuk aset pariwisata alam.
Pihak pemerintah setempat untuk melakukan penelitian di daerah itu, terkendala masalah keterbatasan dana serta diperlukan tenaga ahli di bidangnya
( Sumber: http://forum.vivanews.com/berita-dalam-n… )
http://wahw33d.blogspot.com/2011/09/ditemukan-danau-merah-seperti-darah-di.html#ixzz1xCyBT2J2
Ma’ Nene’, tradisi mengganti pakaian jenazah di Toraja
Juni 1, 2012 at 17:30 , by ensiklonesia

Ma Nene adalah salah satu kegiatan ritual adat di Toraja, khususnya di Baruppu, Rinding Allo Toraja Utara. UpacaraMa Nenek dimaksudkan untuk mengganti pakaian Almarhum, sebagai perwujudan dari rasa cinta keluarga yang masih hidup.
Biasanya, Ma Nene digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma Nene berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.
Ritual Ma Nene oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.
Sejarah Ritul Ma Nene dimulai dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek,
Pong Rumasek sewaktu berburu di kawasan hutan pegunungan Balla.Beliau menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan dan hanya tinggal tulang-belulang.
Merasa iba, Pong Rumasek kemudian merawat mayat semampunya.Dibungkusnya tulang-belulang dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang. Setelah itu, Pong Rumasek kembali berburu.Tak disangka,setelah memberlakukan mayit seperti itu,beliau selalu beroleh hasil yang besar dalam berburu.Dan sesampainya di rumahnya, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawah miliknya sudah menguning dan siap panen sebelum waktunya.
Pong Rumasek menganggap,beberapa keberuntungan diperolehnya berkat perilaku yang ditunjukkan sewaktu merawat mayat tak bernama tersebut.
Sejak saat itulah,Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma Nene.
Ritual Ma Nene juga memiliki aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma Nene untuknya.
Ketika Ma Nene digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke nusantara akan pulang kampung demi mengikuti ritual.Warga Baruppu memiliki keyakikan, jika Ma Nene tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka.
Sumber:
http://ada-akbar.com/2011/06/ritual-mengganti-pakaian-mayit/
http://forum.detik.com/ma-nene-ritual-unik-dari-toraja-budaya-indonesia-t258078.html